BEST SELLER
Information
Untuk Pemesanan Bisa menghubungi
085768163692
pin.BB : 22CDABDB
085768163692
pin.BB : 22CDABDB
About Me
Followers
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Label:
Pendidikan,
Semua Buku
DETAIL
ORDER
![]() |
| JOGJA ACADEMICS UNDERGROUND - Membongkar Budaya Makelar Sarjana Rp 40.000 PEMESANAN 085768163692 08990808774 |
Detail Buku
| Judul | JOGJA ACADEMICS UNDERGROUND; Membongkar Budaya Makelar Sarjana |
| No. ISBN |
978-602-97734-0-8
|
| Penulis | Hujair Sanaky |
| Penerbit | Kaukaba |
| Tanggal terbit | 2012 |
| Jumlah Halaman | - |
| Berat Buku | - |
| Jenis Cover | Soft Cover |
| Dimensi(L x P) | - |
| Kategori | Rubrik Sosial Budaya |
| Bonus | - |
| Text Bahasa | Indonesia |
Jogja
Academics Underground; Membongkar Budaya Makelar Sarjana, sebuah judul
buku yang sangat provokatif mengkritik keras dinamika kehidupan
pendidikan tanah air. Menurut penulis buku ini, tidak berbeda jauh
dengan amburadulnya tata kehidupan sosial politik kebangsaan kita, dunia
pendidikan kita hari ini juga sudah sedemikian mengerikan dan
memprihatinkan. Lebih lanjut menurutnya, ada beberapa alasan mengapa
budaya plagiat mahasiswa yang biasanya melalui jasa Biro Bimbingan
Skripsi /BBS) begitu marak dalam dunia pendidikan kita. Beberapa
diantaranya, (1) Kejujuran
intelektual Akademik S1,
S2,
S3 sangat memprihatinkan, (2) Birokrasi penulisan skripsi di institusi,
(3)
Pola bimbingan dosen kepada mahasiswa, serta (4) Motivasi klien
(mahasiswa) yang ingin cepat selesai tanpa mau berusaha keras (budaya
instan).
Dalam dunia pendidikan jasa pembuatan karya ilmiah (Skripsi, Tesis dan Disertasi) tergolong dalam tindakan penipuan dan
pemalsuan yang melanggar etika pendidikan. Akan tetapi, seperti halnya tindak
penjiplakan, praktik-praktik sejenis sulit dibuktikan karena membutuhkan
kecermatan tinggi
Menurut Ketua Dewan Pendidikan Provinsi DI Yogyakarta Wuryadi,
fenomena ini menandakan pendidikan telah dianggap sebagai komoditas yang punya
harga dan bisa diperdagangkan. Pemalsuan skripsi disebutnya sebagai bagian dari
budaya instan pendidikan yang lebih mengutamakan kemudahan dibandingkan dengan
moral dan proses. Mereka berambisi meraih gelar meski dengan skripsi pesanan.
Kegiatan
jiplak-menjiplak karya ilmiah merupakan puncak gunung es ketidakjujuran dalam
jagat pendidikan kita. Skripsi mahasiswa yang sebagian merupakan jiplakan dengan
cara copy/cut and paste, serta contek-mencontek dalam ujian, sudah dianggap
lumrah. Dengan
demikian, ketidakjujuran itu sudah merambah hampir ke semua jenjang pendidikan.
”Ketidakjujuran ini sudah holistik, mengakar, merambah keluarga, masyarakat,
dunia pendidikan, dan pemerintahan. Ini cermin dari dekadensi moral yang sudah sangat akut.
Komersialisasi
di bidang karya ilmiah ini pada akhirnya melahirkan sarjana-sarjana
bertitel
panjang, tetapi bobot ilmiahnya rendah. Plagiat termasuk tamparan tragis
bagi dunia
pendidikan formal kita dan jika kasus ini dibiarkan bangsa ini akan
hancur. Tidak heran ketika kita acap mendapati para pejabat yang
tiba-tiba secara mendadak mendapatkan belar doktor.
Direktur Eksekutif Yayasan Warisan Luhur
Indonesia (Indonesia Heritage Foundation) Ratna Megawangi menyatakan, maraknya
plagiat adalah bukti kegagalan sistem pendidikan dan pola asuh dalam keluarga,
terutama karena belum adanya pendidikan karakter.
Sementara menurut Guru besar ilmu sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM)
Yogyakarta, Bambang Purwanto, menambahkan, selama ini penjiplakan karya ilmiah
cenderung ditutup-tutupi, berlangsung terus tanpa sanksi. Kondisi ini mendorong
kian merebaknya penjiplakan dan akan menjadi budaya buruk pendidikan kita.
Padahal, menjiplak karya ilmiah merupakan pelanggaran kode etik utama seorang
ilmuwan. Maraknya penjiplakan karya ilmiah merupakan cermin kegagalan sistem
pendidikan nasional. Kini, pendidikan lebih berorientasi pada produk, kurang
menghargai proses, dan rasa malu pada kode etik kian terkikis. ”Demi tunjangan
profesi, gelar kehormatan di lingkungan pendidikan diraih dengan cara curang,”
tutur Wuryadi, Ketua Dewan Pendidikan DI Yogyakarta.
Tokoh penting
lain yang mengkritik keras budaya makelar sarjana ini adalah Prof Dr Moh
Mahfud MD, guru besar hukum tata negara Universitas Islam
Indonesia, Yogyakarta, ia menilai bahwa penjiplakan berpotensi melakukan
korupsi. ”Penjiplak
karya orang lain berpotensi melakukan korupsi. Diri sendiri saja
dibohongi,
apalagi orang lain. Orang-orang seperti ini berbahaya jika kelak menjadi
pemimpin.
Melihat
maraknya fenomena Sarjana abal-abal pada kondisi kehidupan bangsa hari
ini, menjadi tamparan dan sekaligus pekerjaan rumah bagi kita semua anak
bangsa yang masih memiliki hati nurani bersih untuk secara
bersama-sama, bahu membahu, galang persatuan untuk memberantas segala
bentuk praktek yang mengarah pada budaya makelar sarjana ini.
yang beminat order silahkan menghubungi 085768163692
semoga bermanfaat
-Salam Toko Online-
yang beminat order silahkan menghubungi 085768163692
semoga bermanfaat
-Salam Toko Online-
Label:
Pendidikan,
Semua Buku
DETAIL
ORDER
![]() |
| MENGEMBANGKAN MINAT BACA Rp 75.000 PEMESANAN 085768163692 08990808774 |
Detail Buku
| Judul | Mengembangkan Minat Baca |
| No. ISBN | 978-602-9193-47-3 |
| Penulis | John Wood |
| Penerbit | Alvabet |
| Tanggal terbit | Mei - 2014 |
| Jumlah Halaman | 466 |
| Berat Buku | - |
| Jenis Cover | Soft Cover |
| Dimensi(L x P) | 13 x 20 cm |
| Kategori | Edisi Dunia Pendidikan |
| Bonus | - |
| Text Bahasa |
Indonesia
|
Buku ini menceritakan kisah nyata dari sang penulis yang sangat peduli
dengan dunia pendidikan. Apa yang terjadi sejak John Wood meninggalkan
Microsoft
untuk mengubah dunia? Pada 1999, di usia 35 tahun, John Wood
meninggalkan
karier menterengnya di Microsoft untuk mendirikan Room to Read (Ruang
Baca),
organisasi nirlaba yang mempromosikan pendidikan, kesetaraan gender, dan
minat
baca bagi anak-anak di seluruh dunia. Ia membawa pelajaran berharga dari
dunia
usaha ke sektor nirlaba—dan, hasilnya sungguh spektakuler.
John Wood meyakini bahwa perubahan dunia dimulai dari
anak-anak yang terdidik dan melek aksara. Melalui Room to Read, ia pun gigih
membangun ribuan perpustakaan di berbagai belahan dunia, menguatkan kesetaraan
gender melalui beasiswa pendidikan bagi anak perempuan, serta menerbitkan
bermacam buku untuk anak-anak dalam bahasa ibu mereka. Maka, berkat Room to
Read, lebih dari tujuh juta anak miskin kini dapat merasakan manfaat buku dan
pendidikan.
Kisah ihwal John Wood, Room to Read, dan jutaan anak miskin
yang ia kasihi adalah cerita utama buku ini. Inilah catatan mengagumkan ihwal
orang-orang yang penuh kecintaan membantu orang lain yang tak berdaya. Buku ini
telah menggerakkan banyak orang kaya, pejabat pemerintah, dan kaum filantropi.
Kisahnya begitu menggugah dan menginspirasi.
“Bayangkan apa yang akan terjadi jika ratusan orang
mengikuti jejaknya.”
—Bill Clinton, mantan Presiden Amerika Serikat
“Jika setiap anak memperoleh pendidikan, ratusan juta orang
akan terangkat dari jurang kemiskinan.”
—Room to Read
“Antusiasme yang luar biasa, juga keberaniannya. Warisan
perpustakaannya adalah salah satu model yang akan dikenang oleh semua bangsa,
terutama karena John Wood memulai dengan harta pribadinya.”
—Financial Times
“John Wood telah membangun gerakan global untuk kesadaran
literasi dan kesetaraan gender. Buku ini menawarkan blue-print untuk mengubah
dunia.”
—Sheryl Sandberg, COO Facebook dan penulis Lean In
“Gairah perjuangan John Wood untuk gerakan melek huruf dan
pendidikan tertanam di setiap halaman buku ini. Sebuah inspirasi tentang
kekuatan membaca.”
—Booklist
“Wood tak kenal lelah, antusias,dan emosional…Sebuah
motivasi tanpa henti.”
—Nicholas Kristof, New York Times
TENTANG PENULIS
John Wood meraih gelar Bachelors of Science dengan predikat
magna cum laude dari University of Colorado serta menyandang Master of Business
Administration dari Kellogg School of Management, Northwestern University. Dia
tinggal dan bekerja di New York, Amerika Serikat.
John bekerja di Microsoft dari tahun 1991 hingga 1999, dan
ia telah menduduki berbagai posisi penting di perusahaan internasional
tersebut, antara lain se-bagai Direktur Pemasaran Divisi Asia-Pasifik, Direktur
Unit Pelanggan Internet untuk Microsoft Australia, dan Direktur Pemasaran
Microsoft Australia. Pada usia 35 tahun, ia memutuskan berhenti dari jabatannya
sebagai Direktur Pengembangan Bisnis Microsoft untuk daerah Greater, China, dan
kemudian mendirikan organisasi nirlaba Room to Read.
Bermula pada 1998, John mengambil liburan yang mengubah
hidupnya. Berjelajah melalui sebuah desa terpencil di Himalaya, ia berbincang
dengan seorang guru yang mengundang John untuk mengunjungi sekolahnya. John
melihat sekolah tersebut sangat kekurangan buku bacaan. Ia pun mulai bergerak
dengan mengirimkan e-mail sederhana kepada teman-temannya, meminta mereka
ber-sedia menyumbangkan buku bekas. Kegiatan sederhana inilah yang kemudian
tumbuh menjadi lembaga besar bernama Room to Read.
Pemenang banyak penghargaan ini selama sebelas tahun
terakhir telah mendirikan lebih dari 12 ribu perpustakaan, menerbitkan lebih
dari10 juta buku, membangun lebih dari 1.500 sekolah, dan mendukung lebih dari
13 ribu anak perempuan untuk menyelesaikan sekolah menengah mereka. Bersama
Room to Read, John telah member manfaat dan dampak positif bagi kehidupan lebih
dari tujuh juta anak di berbagai kawasan dunia.
John menerima banyak penghargaan berkat gerakannya, termasuk
pengakuan sebagai “Young Global Leader” oleh World Economic Forum. Majalah Time
bahkan menyebutnya sebagai salah seorang “Pahlawan Asia”. Sementara itu, The
Public Broadcasting Corporation (PBS) mencatat namanya sebagai salah satu
“Pemimpin Besar Amerika”. Ia pun dipilih oleh majalah Barron’s sebagai salah
satu dari “25 Pemberi Terbaik” pada 2009 dan 2010, dengan peringkat ke-11 dan
ke-9.
yang minat order silahkan hubungi 085768163692
-Salam Toko Online-
Langganan:
Postingan (Atom)
Buku Bekas
- Bekas (15)
buku baru
- Semua Buku (108)
- Filsafat dan Idiologi (27)
- Novel dan Cerita (20)
- Agama (16)
- Bekas (15)
- Sejarah (9)
- Sejarah Islam dan Nusantara (8)
- Sosial dan Budaya (7)
- Ketuhanan (5)
- Motivasi (3)
- NU dan MU (3)
- Ilmu dan Teknologi (2)
- Kesehatan dan Kuliner (2)
- Pendidikan (2)
- Politik dan hukum (2)
- Humor (1)

